KATA PENGANTAR Wijaya Kusumah

Kamis, 12 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KATA PENGANTAR Wijaya Kusumah

 

Buku ini bukan sekadar kisah seorang guru. Buku ini adalah napas yang hampir terhenti, tetapi memilih untuk kembali hidup melalui kata-kata.

 

Saya percaya, setiap manusia memiliki satu buku di dalam dirinya. Sebuah buku yang belum tentu pernah ditulis, tetapi selalu ingin dikeluarkan. Buku tentang luka. Tentang perjuangan. Tentang doa-doa yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Tentang mimpi yang hampir mati, tetapi ternyata diselamatkan oleh keyakinan.

 

*Saya Hampir Berhenti Menjadi Guru* adalah pengingat bahwa hidup bukan hanya untuk dijalani, tetapi untuk disaksikan—dan salah satu cara terbaik untuk menyaksikan hidup adalah dengan menuliskannya.

 

Sering kali kita berpikir bahwa menulis buku adalah urusan orang hebat. Orang yang punya gelar tinggi. Orang yang terkenal. Orang yang sudah sukses. Padahal, buku yang paling mengubah dunia justru lahir dari hati yang jujur. Dari air mata yang ditahan. Dari kegagalan yang tidak disembunyikan.

 

Kita semua akan mati. Itu pasti.

Tetapi tidak semua orang akan meninggalkan jejak.

 

Jejak itu bukan selalu berupa bangunan, jabatan, atau penghargaan. Kadang jejak itu hanya berupa cerita yang dituliskan dengan tulus. Cerita yang kelak dibaca anak-anak kita. Cerita yang kelak menjadi penguat bagi orang lain yang sedang hampir menyerah.

 

Bayangkan suatu hari nanti, ketika usia tidak lagi muda, ketika tubuh tidak lagi sekuat sekarang. Apa yang tersisa dari kita? Apakah hanya foto-foto di ponsel? Atau percakapan yang hilang ditelan waktu? Atau kita meninggalkan sesuatu yang bisa dibaca, direnungkan, dan diwariskan?

 

Menulis buku adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Keberanian untuk membuka luka. Keberanian untuk berkata, “Ini saya. Ini perjalanan saya. Ini pelajaran yang saya dapatkan.”

 

Dalam buku ini, kita melihat bagaimana seorang guru yang hampir berhenti justru menemukan kembali panggilannya melalui tulisan. Ketika dunia terasa tidak adil. Ketika apresiasi terasa jauh. Ketika fitnah dan kesalahpahaman datang silih berganti. Ia tidak memilih membalas dengan kemarahan. Ia memilih menulis.

 

Menulis bukan sekadar aktivitas. Ia adalah terapi jiwa. Ia adalah doa yang berubah menjadi kalimat. Ia adalah cara Tuhan menguatkan manusia lewat huruf-huruf yang dirangkai dengan sabar.

 

Banyak orang berkata, “Saya tidak punya waktu untuk menulis.”

Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita menunda. Kita menunggu sempurna. Kita menunggu tenang. Kita menunggu tidak sibuk.

 

Kabar buruknya: waktu tidak pernah menunggu kita.

 

Jika ada satu hal yang pasti dalam hidup, itu adalah kematian. Dan salah satu penyesalan terbesar manusia adalah tidak pernah menuliskan kisahnya sendiri. Tidak pernah berbagi pelajaran yang seharusnya bisa menyelamatkan orang lain.

 

Mungkin kita tidak dikenal dunia. Tetapi mungkin ada satu orang di luar sana yang sangat membutuhkan cerita kita.

 

Seorang murid yang hampir menyerah.

Seorang guru yang hampir berhenti.

Seorang ayah yang hampir putus asa.

Seorang ibu yang hampir kehilangan harapan.

 

Buku ini adalah bukti bahwa satu orang yang memilih bertahan dapat menguatkan ribuan orang lainnya.

 

Menulis buku bukan tentang menjadi penulis hebat.

Menulis buku adalah tentang menjadi manusia yang tidak menyia-nyiakan hidupnya.

 

Tulislah sebelum waktu mengambil kesempatan itu dari kita. Tulislah sebelum cerita kita hanya tinggal kenangan dalam kepala yang suatu hari akan diam selamanya. Tulislah meski sederhana. Tulislah meski tidak sempurna. Tulislah meski hanya satu halaman setiap hari.

Karena satu halaman sehari, dalam setahun akan menjadi satu buku.

 

Dan satu buku dapat mengubah hidup seseorang.

 

Saya berharap setelah membaca buku ini, pembaca tidak hanya terharu, tidak hanya tersentuh, tetapi juga tergerak. Tergerak untuk membuka laptopnya. Tergerak untuk mengambil pulpen. Tergerak untuk menuliskan kisahnya sendiri.

 

Jangan tunggu pensiun.

Jangan tunggu terkenal.

Jangan tunggu kaya.

Jangan tunggu waktu luang.

 

Mulailah sekarang.

 

Jika seorang guru yang hampir menyerah saja bisa bangkit melalui tulisan, maka siapa pun bisa melakukannya. Termasuk Anda.

 

Biarlah buku ini menjadi pengingat lembut bahwa hidup terlalu berharga untuk dilewatkan tanpa makna. Dan salah satu cara paling indah memberi makna adalah dengan berbagi cerita.

 

Semoga buku ini bukan hanya dibaca, tetapi menjadi pemantik lahirnya ratusan, ribuan buku lain dari tangan para guru, orang tua, pemimpin, dan siapa saja yang ingin meninggalkan cahaya setelah dirinya tiada.

 

Karena pada akhirnya, kita semua akan pergi.

 

Tetapi tulisan yang lahir dari hati akan tetap tinggal.

 

Dan mungkin, itulah cara terbaik untuk hidup… bahkan setelah mati.

 

Salam blogger persahabatan

Wijaya Kusumah – omjay

Guru blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Berita Terkait

Babinsa Kawal Seleksi Paskibraka Moro, Siapkan Generasi Disiplin
Babinsa Kundur Gembleng Disiplin Siswa Baru SMA 4 Kundur
Babinsa Kawal Seleksi Paskibra HUT RI di Selat Gelam
Babinsa Darussalam Ajak Pemuda Tingkatkan Kewaspadaan Jaga Keamanan Lingkungan
Babinsa Durai Gembleng Disiplin Siswa Baru Lewat Latihan PBB
Babinsa Kodim 0317/TBK Perkuat Disiplin Pelajar Melalui Pelatihan PBB
Babinsa Parit Benut Latih Disiplin 62 Siswa SMA Swasta Cahaya
Babinsa Ajak Pemuda Lubuk Puding Tegas Tolak Narkoba
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:34

Babinsa Kawal Seleksi Paskibraka Moro, Siapkan Generasi Disiplin

Selasa, 21 Juli 2026 - 06:54

Babinsa Kundur Gembleng Disiplin Siswa Baru SMA 4 Kundur

Senin, 20 Juli 2026 - 06:18

Babinsa Kawal Seleksi Paskibra HUT RI di Selat Gelam

Jumat, 17 Juli 2026 - 06:56

Babinsa Darussalam Ajak Pemuda Tingkatkan Kewaspadaan Jaga Keamanan Lingkungan

Kamis, 16 Juli 2026 - 06:28

Babinsa Durai Gembleng Disiplin Siswa Baru Lewat Latihan PBB

Berita Terbaru

Terkini

Babinsa Kawal Seleksi Paskibra HUT RI di Selat Gelam

Senin, 20 Jul 2026 - 06:18