Langsung ke konten
Terkini
SPACE IKLAN970 x 120 px
Terkini

Belajar Sampai Tua: Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia dan 10 Ulama yang Mengajarkan Kita bahwa Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Pensiun

September 23, 2026
0 1,014

Belajar Sampai Tua: Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia dan 10 Ulama yang Mengajarkan Kita bahwa Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Pensiun

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay Guru Blogger Indonesia

Baca Juga: Peltu Manurung Hadiri Musyawarah Pramuka Kundur Barat Bahas Regenerasi Organisasi

Ada satu kalimat yang selalu saya pegang dalam perjalanan hidup sebagai guru:

«“Selama kita masih hidup, selama itu pula kita masih menjadi murid.”»

Saya, Omjay, seorang guru yang sudah puluhan tahun mengajar, masih terus belajar sampai hari ini.

Belajar teknologi.
Belajar menulis.
Belajar tentang kecerdasan artifisial.
Belajar dari murid.
Belajar dari guru lain.
Belajar dari pengalaman.
Bahkan belajar dari kesalahan sendiri.

Menjadi guru ternyata tidak berarti berhenti menjadi murid.

Justru semakin lama mengajar, saya semakin sadar bahwa ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit dibandingkan luasnya ilmu Allah.

Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007. Ketika itu saya sedang menempuh pendidikan S2 di Pascasarjana UNJ. Saya bertemu dengan sosok blogger dan pendidik yang menginspirasi, Pak Dedi Dwitagama.

Dari sanalah saya semakin yakin bahwa menulis adalah salah satu cara untuk belajar dan berbagi.

Blog menjadi ruang belajar saya.

Saya menulis bukan karena merasa paling tahu. Saya menulis karena ingin terus belajar.

Hari ini menulis tentang pendidikan.

Besok belajar tentang teknologi.

Lusa belajar tentang AI.

Kemudian belajar tentang coding, informatika, literasi digital, organisasi guru, dan berbagai persoalan pendidikan.

Semakin banyak menulis, semakin saya menyadari satu hal:

Ternyata ilmu itu tidak pernah habis.

Dan ternyata semangat seperti inilah yang telah dicontohkan oleh para ulama sejak berabad-abad lalu.

1. Imam Ahmad bin Hanbal: Membawa Tempat Tinta Sampai ke Liang Kubur

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله adalah salah satu imam besar dalam Islam dan seorang ulama besar dalam ilmu hadits.

Ada ungkapan terkenal yang dinisbatkan kepada beliau:

مَعَ الْمَحْبَرَةِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ

“Bersama tempat tinta sampai ke liang kubur.”

Pesannya sangat dalam.

Belajar tidak mengenal usia.

Menjadi ulama besar tidak membuat seseorang berhenti mencari ilmu.

Bahkan dalam riwayat yang disebutkan oleh sebagian sumber, ketika beliau sakit menjelang wafat, beliau masih meminta agar hadits yang pernah didengarnya dibacakan kepadanya.

Saya membayangkan:

Jika seorang ulama besar saja masih merasa perlu belajar, lalu siapa kita sehingga merasa sudah cukup berilmu?

Saya pun sering mengingatkan diri sendiri:

Jangan merasa sudah pintar hanya karena sudah lama mengajar.

Lama mengajar bukan berarti kita sudah mengetahui semuanya.

2. Al-Khathib Al-Baghdadi: Ilmu Kadang Harus Dicari dengan Perjalanan

Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi رحمه الله adalah seorang ulama besar dalam ilmu hadits dan sejarah.

Beliau melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk mencari ilmu dan hadits.

Baghdad, Bashrah, Kufah, Naisabur, Rayy, Isfahan, Makkah, Syam, dan berbagai tempat lainnya menjadi bagian dari perjalanan ilmiahnya.

Dari kisah beliau saya belajar:

Ilmu tidak selalu datang mengetuk pintu rumah kita.

Kadang kitalah yang harus mengetuk pintu ilmu.

Hari ini perjalanan mencari ilmu mungkin tidak harus menggunakan unta atau berjalan kaki seperti para ulama dahulu.

Kita bisa membuka buku.

Mengikuti seminar.

Mengikuti webinar.

Membaca jurnal.

Menonton pembelajaran.

Berdiskusi dengan guru lain.

Bahkan memanfaatkan teknologi dan AI sebagai alat bantu belajar.

Namun prinsipnya tetap sama:

Jangan berhenti mencari ilmu.

3. Abu Nu’aim Al-Isfahani: Jangan Cepat Merasa Kenyang dengan Ilmu

Abu Nu’aim al-Isfahani رحمه الله dikenal sebagai ulama hadits.

Beliau memiliki banyak guru dan melakukan perjalanan untuk memperoleh ilmu dan hadits.

Ketika ilmu telah diperoleh, ilmu itu tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Beliau mengajarkannya kepada orang lain.

Di sinilah saya menemukan hubungan yang sangat kuat dengan profesi guru.

Guru yang baik bukan hanya belajar untuk dirinya sendiri.

Guru belajar agar bisa membuat muridnya ikut bertumbuh.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha membagikan apa yang saya pelajari melalui tulisan.

Saya menulis di blog.

Saya menulis di media.

Saya membuat bahan ajar.

Saya berbagi pengalaman kepada guru.

Saya belajar dari guru.

Kemudian saya menulis lagi.

Siklusnya terus berjalan.

Belajar → menulis → berbagi → mendapat masukan → belajar lagi.

4. Al-Khattabi: Bertambah Usia, Jangan Kehilangan Rasa Ingin Tahu

Imam al-Khattabi رحمه الله dikenal sebagai ulama yang memiliki perhatian besar terhadap hadits dan fikih.

Perjalanan ilmiahnya mencakup berbagai wilayah.

Kisah para ulama seperti beliau mengingatkan saya bahwa bertambah usia seharusnya tidak membuat rasa ingin tahu kita semakin kecil.

Justru sebaliknya.

Semakin tua, seharusnya semakin banyak pertanyaan yang kita ajukan kepada kehidupan.

Mengapa?

Karena pengalaman membuat kita memahami bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan ketika masih muda.

Saya merasakan sendiri.

Dulu saya belajar komputer.

Sekarang saya belajar AI.

Dulu saya menulis di blog.

Sekarang saya belajar bagaimana teknologi AI dapat membantu guru dan siswa.

Dulu internet masih menjadi sesuatu yang baru.

Sekarang anak-anak kita hidup dalam ekosistem digital.

Kalau guru berhenti belajar, bagaimana mungkin guru mampu membimbing generasi baru?

5. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani: Puluhan Tahun Bersama Ilmu

Ibnu Hajar al-‘Asqalani رحمه الله dikenal melalui karya monumentalnya, Fathul Bari, syarah terhadap Shahih al-Bukhari.

Karya besar tidak lahir dalam satu malam.

Ia membutuhkan waktu, ketekunan, penelitian, membaca, menulis, memeriksa, dan terus memperbaiki.

Di sinilah saya belajar tentang pentingnya konsistensi.

Saya sendiri sudah menulis di blog sejak 2007.

Bagi sebagian orang, mungkin menulis blog terlihat sederhana.

Tetapi ketika dilakukan bertahun-tahun, tulisan itu menjadi perjalanan hidup.

Ada tulisan tentang guru.

Ada tentang pendidikan.

Ada tentang teknologi.

Ada tentang pengalaman mengajar.

Ada tentang perjalanan.

Ada tentang organisasi.

Ada tentang kehidupan.

Lama-kelamaan saya sadar:

Blog bukan sekadar tempat menyimpan tulisan.

Blog adalah jejak perjalanan belajar.

6. Abdullah bin Al-Mubarak: Keluar dari Zona Nyaman

Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله adalah salah seorang imam besar yang dikenal dalam hadits, zuhud, dan berbagai bidang lainnya.

Beliau melakukan perjalanan yang luas untuk mencari ilmu.

Kisah beliau mengajarkan bahwa mencari ilmu membutuhkan pengorbanan.

Kadang kita harus meninggalkan kenyamanan.

Harus meluangkan waktu.

Harus membaca ketika orang lain sedang bersantai.

Harus belajar ketika orang lain berkata, “Sudahlah, kamu sudah tua.”

Saya pun belajar bahwa menjadi guru di zaman sekarang mengharuskan kita terus beradaptasi.

Teknologi berubah.

Kurikulum berubah.

Cara belajar siswa berubah.

Kecerdasan artifisial berkembang sangat cepat.

Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal.

7. Saya, Omjay, Juga Masih Belajar

Saya sering ditanya:

“Omjay sudah lama menjadi guru. Mengapa masih terus belajar?”

Jawabannya sederhana.

Karena saya seorang guru.

Dan guru tidak boleh berhenti belajar.

Saya mulai mengajar sejak 1994.

Puluhan tahun berada di dunia pendidikan tidak membuat saya merasa sudah selesai.

Justru saya semakin sadar bahwa menjadi guru adalah perjalanan panjang.

Saya masih belajar membuat pembelajaran yang lebih menarik.

Masih belajar coding.

Masih belajar AI.

Masih belajar menulis.

Masih belajar membuat media pembelajaran.

Masih belajar dari murid.

Masih belajar dari teman-teman guru.

Masih belajar dari para pembaca tulisan saya.

Dan mungkin, proses belajar itu tidak akan pernah selesai.

8. Jangan Menunggu Pensiun untuk Belajar

Ada orang berkata:

«“Nanti kalau sudah pensiun saya akan belajar.”»

Saya tersenyum mendengarnya.

Sebab kita tidak pernah tahu apakah kita akan sampai pada masa pensiun dengan kondisi yang kita harapkan.

Karena itu saya memilih belajar sekarang.

Bukan nanti.

Kalau ada buku, saya baca.

Kalau ada ilmu baru, saya pelajari.

Kalau ada guru yang lebih tahu, saya bertanya.

Kalau ada teknologi baru, saya mencoba memahaminya.

Kalau ada kesalahan, saya perbaiki.

Jangan menunggu waktu luang untuk belajar.

Sisihkan waktu untuk belajar.

9. Jangan Malu Belajar dari Orang yang Lebih Muda

Ini juga penting.

Kadang usia membuat seseorang merasa gengsi belajar dari orang yang lebih muda.

Menurut saya, itu justru penghalang terbesar dalam belajar.

Saya pernah belajar dari siswa.

Saya pernah belajar dari guru yang lebih muda.

Saya belajar dari mahasiswa.

Saya belajar dari komunitas.

Saya belajar dari para pembuat konten pendidikan.

Saya belajar dari teknologi.

Bahkan ketika menggunakan AI, saya selalu mengingat bahwa AI hanyalah alat.

Manusia tetap harus menggunakan akal, pengalaman, hati nurani, dan tanggung jawab.

Teknologi boleh semakin canggih.

Tetapi manusia harus tetap menjadi pembelajar.

10. Allah Mengajarkan Kita untuk Terus Meminta Tambahan Ilmu

Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

QS. Thaha: 114

Ayat ini sangat indah.

Kita tidak diperintahkan untuk merasa cukup.

Kita justru diajarkan meminta:

“Tambahkanlah kepadaku ilmu.”

Bagi saya, ayat ini sangat relevan bagi guru.

Karena setiap hari kita berhadapan dengan manusia yang sedang tumbuh.

Murid kita berubah.

Teknologi berubah.

Dunia berubah.

Maka guru pun harus terus berubah menjadi pembelajar.

Belajar Sampai Tua, Mengamalkan Sampai Wafat

Saya mungkin tidak akan pernah menjadi seperti Imam Ahmad bin Hanbal.

Tidak akan seperti al-Khathib al-Baghdadi.

Tidak akan seperti Ibnu Hajar al-‘Asqalani.

Namun saya bisa meneladani semangat mereka dalam mencintai ilmu.

Saya bisa terus membaca.

Saya bisa terus menulis.

Saya bisa terus mengajar.

Saya bisa terus berbagi.

Saya bisa terus belajar dari siapa saja.

Dan saya bisa terus memperbaiki diri.

Itulah perjalanan saya sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Saya belajar bahwa umur bukan alasan untuk berhenti.

Pensiun dari pekerjaan mungkin suatu saat datang.

Tetapi pensiun dari belajar seharusnya tidak pernah ada.

Selama masih diberikan umur, mari belajar.

Selama masih diberikan kesempatan, mari berbagi.

Selama masih diberikan kesehatan, mari berkarya.

Dan selama masih diberikan napas, mari terus memperbaiki diri.

Tidak harus memulai dengan sesuatu yang besar.

Mulailah dari satu halaman buku.

Satu ayat.

Satu hadits.

Satu tulisan.

Satu keterampilan.

Satu kesalahan yang diperbaiki.

Satu kebaikan yang diamalkan.

Kemudian lakukan lagi besok.

Dan besoknya lagi.

Sampai akhirnya Allah memanggil kita.

Belajar sampai tua.

Mengamalkan sampai wafat.

Menulis dengan hati.

Berbagi dengan ikhlas.

Menginspirasi tanpa henti.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya, mengajarkannya dengan ikhlas, dan terus belajar sampai akhir kehidupan.

اللَّهُمَّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعًا

“Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat.”

🤲 Salam Blogger Indonesia.

Omjay — Guru yang terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Berita Berikutnya