Langsung ke konten
Terkini
Terkini

Kisah Omjay: Menulis Sebelum Mata Terpejam

November 5, 2026
0 1,068

Jangan biarkan hari-harimu berlalu begitu saja. Sebab, setiap hari menyimpan cerita, setiap cerita menyimpan kenangan, dan setiap kenangan layak diabadikan menjadi tulisan.

Malam itu, Senin, 4 November 2026, suasana grup WhatsApp KBMN PGRI Gelombang 35 kembali ramai oleh pesan-pesan sederhana dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Baca Juga: Babinsa Pamak Ajak Generasi Muda Karimun Jadi Prajurit TNI AD

Seperti biasa, Omjay menyapa bapak dan ibu peserta dengan salam penuh kehangatan.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

“Selamat malam bapak dan ibu semuanya.”

Mungkin bagi sebagian orang, sapaan itu hanya pesan biasa di sebuah grup WhatsApp. Namun, bagi Omjay, ada harapan besar di balik setiap pesan yang dikirimkan. Ada keinginan agar para guru tidak sekadar menjalani kehidupan, tetapi juga mampu mengabadikan perjalanan hidupnya melalui tulisan.

Tak terasa, bulan November sudah memasuki hari keempat. Empat hari telah berlalu. Berapa banyak cerita yang sudah kita alami? Berapa banyak pengalaman yang sudah kita lalui? Dan berapa banyak di antaranya yang sempat kita tuliskan?

Pernahkah kita membayangkan bahwa suatu hari nanti anak dan cucu kita ingin mengetahui bagaimana kehidupan kita hari ini?

Mereka mungkin ingin tahu bagaimana kakek dan neneknya berjuang menjadi guru. Bagaimana dahulu mengajar dengan segala keterbatasan. Bagaimana menghadapi murid yang sulit diatur. Bagaimana menangis karena kecewa, tertawa karena bahagia, dan tetap bertahan meskipun kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Sayangnya, semua kenangan itu bisa hilang apabila tidak pernah dituliskan.

Itulah sebabnya Omjay mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 melakukan refleksi diri setiap malam melalui kegiatan menulis.

Hal tersulit dalam menulis adalah memulai

Dalam pesan WhatsApp malam itu, Omjay menuliskan sebuah kalimat yang sederhana, tetapi sangat bermakna.

“Apakah yang sulit dari menulis? Hal yang sulit dari menulis adalah MEMULAI.”

Benar sekali.

Banyak orang ingin menjadi penulis. Banyak guru ingin mempunyai buku sendiri. Banyak peserta pelatihan ingin melihat namanya tercetak di sampul sebuah buku.

Namun, ketika diminta menulis, tiba-tiba muncul seribu alasan.

Tidak punya waktu. Tidak punya ide. Takut salah. Takut tulisan jelek. Bingung mencari kalimat pertama. Bahkan ada yang merasa dirinya tidak berbakat menulis.

Padahal, tidak ada penulis hebat yang langsung menghasilkan tulisan sempurna pada awal perjalanan.

Semua penulis pernah menjadi pemula.

Mereka pernah menatap layar komputer tanpa tahu harus menulis apa. Mereka pernah menghapus kalimat yang sudah dibuat. Mereka pernah merasa tulisannya tidak menarik. Bahkan mungkin pernah merasa tidak ada seorang pun yang mau membaca karyanya.

Tetapi ada satu hal yang membedakan penulis dengan orang yang hanya ingin menjadi penulis.

Penulis mau memulai.

Omjay ingin bapak dan ibu memahami bahwa menulis tidak harus menunggu suasana hati menjadi baik. Tidak harus menunggu ide datang seperti hujan. Tidak harus menunggu waktu luang yang entah kapan akan tersedia.

Mulailah sekarang.

Tulislah satu paragraf. Kemudian satu halaman. Besok satu halaman lagi.

Lama-kelamaan, tulisan itu akan terkumpul menjadi sebuah buku.

Dari blog sederhana menjadi buku yang bermakna

Omjay bukanlah orang yang tiba-tiba bisa menghasilkan buku setiap bulan.

Ada perjalanan panjang di balik kebiasaan menulis setiap hari.

Sejak tahun 2007, Omjay mulai menekuni dunia blog. Salah satu rumah digital yang menjadi tempatnya menyimpan cerita adalah:

https://wijayalabs.blogspot.com

Di blog itulah Omjay menuliskan berbagai pengalaman hidup, kegiatan mengajar, perjalanan, pemikiran tentang pendidikan, serta berbagai peristiwa yang dialami setiap hari.

Kadang tulisannya sederhana. Kadang hanya menceritakan kejadian kecil yang mungkin dianggap tidak penting oleh orang lain.

Namun, Omjay percaya bahwa sesuatu yang kecil hari ini bisa menjadi kenangan yang sangat berharga pada masa depan.

Dari tanggal 1 sampai 31 Oktober 2026, Omjay mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 menulis setiap hari di blog masing-masing.

Sebulan penuh bukanlah waktu yang sebentar.

Ada hari ketika ide mengalir deras. Ada pula hari ketika kepala terasa kosong. Ada hari ketika pekerjaan menumpuk. Ada pula hari ketika tubuh sudah lelah setelah seharian mengajar dan menjalankan berbagai kegiatan.

Tetapi Omjay terus berusaha memberikan contoh.

Sebab Omjay tidak ingin hanya menyuruh orang lain menulis, sementara dirinya sendiri berhenti menulis.

Apa hasilnya?

Tulisan-tulisan yang dikumpulkan selama Oktober itu kini mulai menjelma menjadi sebuah buku.

Dari tulisan harian menjadi kumpulan artikel. Dari kumpulan artikel menjadi naskah buku. Dari naskah buku menjadi sebuah karya yang bisa dibaca oleh banyak orang.

Inilah keajaiban konsistensi.

Bayangkan jika kebiasaan itu terus dilakukan selama setahun.

Satu bulan menghasilkan satu buku. Dua belas bulan menghasilkan dua belas buku.

Tentu semuanya membutuhkan proses penyuntingan, pemilihan tulisan, dan penyempurnaan naskah. Namun, bukankah perjalanan panjang selalu dimulai dari satu langkah kecil?

BACA SELENGKAPNYA 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * wajib diisi.

Berita Berikutnya