Dari Sertifikat Rumah Bu Betti hingga Air Mata Omjay: Kisah OTN 1 sampai OTN 8
Oleh: Omjay, Guru Blogger Indonesia, Blog https://wijayalabs.com
Baca Juga: Koramil 04/Tebing Tanam 1.000 Mangrove, Perkuat Benteng Pesisir Karimun
Ada satu alasan mengapa saya tidak pernah bisa melihat OTN hanya sebagai sebuah lomba. Setiap kali mendengar nama Olimpiade TIK dan Informatika Nasional, ingatan saya selalu kembali kepada perjalanan panjang bersama keluarga besar Komunitas Guru TIK dan Informatika serta KOGTIK PGRI.
Di balik panggung, piala, medali, sertifikat, dan senyum para juara, ada begitu banyak cerita manusia yang tidak terlihat. Ada guru yang mengorbankan waktu bersama keluarga, ada panitia yang mengeluarkan tenaga dan biaya, ada peserta yang datang dari jauh dengan fasilitas seadanya, dan ada orang-orang yang bekerja dalam diam agar anak-anak Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Dari OTN pertama sampai perjalanan menuju OTN 8, saya menyaksikan sendiri bahwa sebuah kegiatan pendidikan tidak pernah dibangun oleh satu orang. OTN tumbuh dari gotong royong, kepercayaan, doa, pengorbanan, dan cinta kepada masa depan anak-anak Indonesia.
Kalau pembaca hanya melihat OTN dari foto-foto yang indah, mungkin yang terlihat hanyalah kemeriahan sebuah lomba. Anak-anak naik ke panggung, menerima piala, tersenyum bersama guru dan orang tua, lalu mengabadikan momen dalam foto. Namun saya ingin mengajak pembaca melihat sisi yang jarang terlihat.
Sebelum anak-anak itu berdiri di panggung, ada panitia yang bekerja sejak jauh-jauh hari. Ada guru yang mempersiapkan muridnya setelah selesai mengajar. Ada orang tua yang menabung agar anaknya bisa berangkat.
Ada orang-orang yang mengurus soal, kurasi, peserta, juri, perlengkapan, konsumsi, transportasi, administrasi, dokumentasi, hingga persoalan kecil yang sering kali tidak diketahui peserta. Bahkan ada pengorbanan yang bagi saya sangat luar biasa dan sampai hari ini masih membuat dada saya terasa sesak ketika mengingatnya.

Saya masih terbayang sosok Bu Betti, yang menjadi bendahara dan ikut berjuang agar OTN tetap bisa berjalan. Dalam satu masa perjuangan, Bu Betti bahkan pernah menggadaikan sertifikat rumahnya agar teman-teman panitia bisa tetap eksis dan kegiatan OTN dapat terus berjalan.
Bagi saya, ini bukan sekadar cerita tentang keuangan sebuah kegiatan. Ini adalah cerita tentang seorang guru yang mempertaruhkan sesuatu yang sangat berharga demi sebuah cita-cita pendidikan.
Rumah bagi sebuah keluarga bukan hanya bangunan. Rumah adalah tempat pulang, tempat anak-anak tumbuh, tempat keluarga berkumpul dan tempat seseorang merasa aman. Karena itu, ketika saya mengingat bahwa ada seorang guru yang berani mempertaruhkan sertifikat rumahnya demi perjuangan OTN, saya tidak mampu berkata banyak. Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah membalas setiap kebaikan dan pengorbanannya dengan balasan yang jauh lebih besar.
Namun perjalanan OTN juga mengajarkan kepada kami bahwa tidak semua pejuang dapat terus bersama sampai akhir. Kami pernah kehilangan sosok Pak Bambang, Ketua KOGTIK, yang meninggal dunia karena serangan jantung.
Kepergiannya meninggalkan luka bagi keluarga besar kami. Pak Bambang bukan hanya seorang ketua dalam struktur organisasi. Beliau adalah sahabat, teman berdiskusi, teman berjuang, dan bagian dari perjalanan panjang KOGTIK serta OTN. Ketika seseorang yang selama ini kita kenal tiba-tiba pergi untuk selamanya, kita baru sadar bahwa waktu bersama ternyata sangat mahal.
Ada percakapan yang tidak akan pernah terulang, ada candaan yang tidak akan terdengar lagi, ada rencana yang akhirnya hanya tinggal kenangan. Tetapi kehidupan harus terus berjalan. Manusia boleh pergi, tetapi cita-cita baik yang pernah diperjuangkan tidak boleh ikut mati. Karena itu, saya percaya semangat Pak Bambang Susetyanto harus tetap hidup dalam langkah teman-teman KOGTIK PGRI dan seluruh keluarga besar OTN.





