Ada sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin lama semakin mengganggu pikiran saya: kalau AI sekarang bisa membuat tulisan dalam hitungan detik, mengapa guru masih harus repot-repot menulis?
Bukankah kita tinggal membuka AI, mengetikkan perintah, lalu beberapa detik kemudian muncul tulisan yang rapi, lengkap, bahkan kadang jauh lebih terstruktur daripada tulisan manusia? Pertanyaan ini penting, terutama bagi guru.
Baca Juga: 353 guru ikut PM Koding dan Kecerdasan Artifisial di Labschool UNJ
Sebab saya melihat sendiri bagaimana kecerdasan artifisial berkembang begitu cepat. Dulu untuk membuat satu tulisan saya harus duduk di depan komputer, mencari ide, mengetik kalimat demi kalimat, membaca ulang, memperbaiki kesalahan, kemudian mempublikasikannya. Sekarang proses itu bisa dibantu AI.
Tetapi setelah hampir dua dekade saya menulis di internet, saya menemukan satu kesimpulan yang menurut saya sangat penting. Yang membuat tulisan berharga bukan hanya kata-katanya. Yang membuatnya berharga adalah kehidupan di balik kata-kata tersebut.

Saya sudah menulis di blog sejak 2007. Selama perjalanan itu, saya belajar bahwa blog bukan sekadar tempat menyimpan tulisan. Bagi saya, blog adalah alat rekam yang ajaib. Apa yang kita tulis hari ini mungkin terlihat biasa saja. Namun beberapa tahun kemudian, tulisan itu bisa berubah menjadi dokumentasi perjalanan hidup yang sangat berharga.
Saya bisa kembali membaca tulisan lama dan mengingat bagaimana keadaan saya saat itu, apa yang sedang saya pikirkan, siapa yang saya temui, apa yang saya lakukan, dan pelajaran apa yang saya dapatkan. AI bisa membantu menyusun kalimat. Tetapi AI tidak pernah menjalani kehidupan saya.
AI Tidak Pernah Berdiri di Depan Kelas
Saya adalah guru Informatika. Saya mengajar siswa, berdiskusi dengan guru, belajar teknologi, dan terus mengikuti perubahan dunia pendidikan. Ketika berbicara tentang kecerdasan artifisial, saya tidak melihat AI sebagai musuh guru. Saya justru melihat AI sebagai alat yang dapat membantu guru bekerja lebih baik.
Guru dapat menggunakan AI untuk mencari ide pembelajaran, membuat variasi soal, menyusun rancangan kegiatan, mengembangkan bahan ajar, memperbaiki tulisan, atau melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya menghabiskan banyak waktu. Tetapi ada batas yang tidak boleh kita lupakan.
AI tidak pernah berdiri di depan kelas. AI tidak melihat wajah siswa yang bingung ketika guru menjelaskan sebuah konsep. AI tidak melihat seorang anak yang tiba-tiba tersenyum karena akhirnya berhasil menyelesaikan tugas. AI tidak mendengar suara siswa yang berkata, “Pak, saya sekarang sudah mengerti.”
AI juga tidak merasakan kebahagiaan seorang guru ketika melihat muridnya berhasil.
Semua pengalaman itu adalah milik manusia. Dan justru pengalaman manusia itulah yang membuat tulisan guru menjadi berbeda.
Guru Punya Seribu Cerita
Saya sering mengatakan bahwa guru sebenarnya memiliki seribu cerita, tetapi tidak semuanya mau menuliskannya. Padahal setiap hari guru mengalami berbagai peristiwa.
Ada siswa yang membuat kita tertawa. Ada siswa yang membuat kita berpikir keras. Ada siswa yang membutuhkan perhatian lebih. Ada kelas yang berjalan sesuai rencana. Ada pula pembelajaran yang gagal total dan membuat kita harus mencari cara lain. Semua itu adalah bahan tulisan.





