Resensi Buku
Belajar 21 Hari di China: Ketika Seorang Guru Menjadi Murid Kembali
Judul Buku: Belajar 21 Hari di China
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Genre: Memoar Pendidikan, Inspirasi, Perjalanan Edukatif
Tebal: ±288 halaman
Sasaran Pembaca: Guru, dosen, mahasiswa, pegiat literasi, pemerhati pendidikan, dan masyarakat umum.
Mimpi yang Menjadi Nyata
Ada banyak buku perjalanan yang menceritakan keindahan suatu negara, tetapi hanya sedikit yang mampu mengubah perjalanan fisik menjadi perjalanan batin. Belajar 21 Hari di China karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau yang akrab dikenal sebagai Omjay, termasuk salah satu di antaranya.
Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan selama tiga minggu di China University of Mining and Technology (CUMT), Xuzhou. Buku ini merupakan refleksi seorang guru Indonesia yang memperoleh kesempatan belajar di luar negeri, lalu menjadikan setiap pengalaman sebagai bahan pembelajaran untuk dirinya sendiri sekaligus inspirasi bagi dunia pendidikan Indonesia.
Sejak halaman-halaman awal, pembaca diajak memahami bahwa perjalanan ke China tidak dimulai ketika pesawat lepas landas, melainkan jauh sebelumnya, ketika penulis memutuskan untuk tidak pernah berhenti belajar dan menulis. Gagasan itu menjadi benang merah yang mengikat seluruh isi buku.
Guru yang Bersedia Menjadi Murid
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah kerendahan hati penulis. Meskipun telah puluhan tahun mengajar, beliau datang ke China bukan sebagai orang yang merasa paling tahu, melainkan sebagai seorang murid yang ingin belajar kembali.
Pengalaman duduk di ruang kuliah bersama peserta dari berbagai negara, berdiskusi dengan dosen, mengamati budaya akademik, hingga mempelajari pemanfaatan teknologi pendidikan memberikan perspektif baru tentang makna menjadi guru sepanjang hayat.
Pesan tersebut terasa sangat relevan di era perubahan teknologi yang begitu cepat. Guru tidak lagi cukup mengandalkan pengalaman masa lalu, tetapi harus terus memperbarui wawasan agar mampu membimbing generasi masa depan.
Lebih dari Sekadar Catatan Perjalanan
Keunggulan buku ini terletak pada kemampuannya menghubungkan pengalaman pribadi dengan refleksi pendidikan.
Saat melihat masyarakat China disiplin mengantre, menjaga kebersihan, memanfaatkan teknologi digital, dan menghargai waktu, penulis tidak berhenti pada kekaguman semata. Beliau terus bertanya, “Apa yang bisa dipelajari Indonesia?” Pertanyaan reflektif seperti ini membuat buku terasa hidup sekaligus mengajak pembaca berpikir.
Perjalanan akhirnya menjadi laboratorium pendidikan yang sesungguhnya.
Menulis sebagai Jalan Kesempatan
Nilai lain yang terus muncul adalah pentingnya budaya menulis.
Penulis berkali-kali menunjukkan bahwa kebiasaan menulis di blog dan Kompasiana bukan hanya menjadi sarana berbagi pengalaman, tetapi juga membuka jejaring profesional dan menghadirkan berbagai kesempatan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bahkan kesempatan belajar ke China menjadi salah satu buah dari konsistensi tersebut.
Pesan ini sangat kuat bagi guru Indonesia. Menulis bukan sekadar menghasilkan artikel, melainkan membangun rekam jejak profesional.
Pendidikan Tanpa Batas Negara
Selama berada di CUMT, penulis melihat bagaimana pendidikan dibangun melalui budaya riset, kolaborasi internasional, penggunaan teknologi, dan pembelajaran aktif.
Yang menarik, penulis tidak pernah menyimpulkan bahwa sistem pendidikan China lebih baik daripada Indonesia. Sebaliknya, beliau mengajak pembaca mengambil pelajaran yang relevan dan menyesuaikannya dengan kondisi Indonesia. Sikap objektif seperti ini membuat buku terasa dewasa dan tidak berlebihan.
Bahasa yang Mengalir
Gaya bahasa Omjay sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami.
Setiap bab diawali kutipan motivasi yang memperkuat suasana. Alur cerita bergerak kronologis sehingga pembaca dapat mengikuti perjalanan sejak menerima undangan, mengurus keberangkatan, tiba di China, hingga memasuki kehidupan akademik di universitas.
Bahasa reflektif yang digunakan membuat buku tidak terasa seperti laporan perjalanan, melainkan percakapan hangat antara penulis dan pembaca.
Nilai-Nilai yang Ditanamkan
Buku ini sarat dengan nilai positif, antara lain:
– Semangat belajar sepanjang hayat.
– Pentingnya kerja keras dan doa dalam meraih mimpi.
– Budaya disiplin dan menghargai waktu.
– Pentingnya literasi dan kebiasaan menulis.
– Rendah hati dalam mencari ilmu.
– Teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
– Pendidikan sebagai jembatan membangun bangsa.
Nilai-nilai tersebut muncul secara alami melalui pengalaman penulis, bukan melalui ceramah yang menggurui.
Kelebihan Buku
Beberapa kelebihan buku ini antara lain:
– Mengangkat pengalaman nyata seorang guru Indonesia di forum internasional.
– Sarat motivasi bagi guru dan calon guru.
– Banyak refleksi yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan Indonesia.
– Mudah dibaca karena menggunakan bahasa yang komunikatif.
– Memadukan kisah perjalanan, pendidikan, teknologi, budaya, dan literasi dalam satu narasi.
– Mengajak pembaca percaya bahwa mimpi dapat diwujudkan melalui kerja keras, doa, belajar, dan konsistensi menulis.
Catatan Perbaikan
Sebagai naskah yang kaya pengalaman, buku ini akan semakin kuat apabila pada versi akhir dilakukan penyuntingan untuk menghilangkan beberapa pengulangan ide dan kalimat yang muncul di beberapa bagian awal. Selain itu, penyisipan lebih banyak foto dokumentasi, infografik perjalanan, peta lokasi, dan ilustrasi aktivitas di kampus akan memperkaya pengalaman membaca.
Kesimpulan
Belajar 21 Hari di China bukan hanya menceritakan perjalanan ke Negeri Tirai Bambu. Buku ini adalah kisah transformasi seorang guru yang membuktikan bahwa belajar tidak mengenal usia, profesi, maupun batas negara.
Melalui buku ini, Omjay berhasil menunjukkan bahwa seorang guru yang terus belajar akan selalu memiliki sesuatu yang baru untuk dibagikan kepada murid-muridnya. Perjalanan ke China hanyalah medianya; pesan utamanya adalah semangat menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Buku ini layak dibaca oleh guru, mahasiswa pendidikan, kepala sekolah, dosen, pegiat literasi, dan siapa saja yang percaya bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik untuk mengubah kehidupan.
Penilaian Akhir: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)
“Belajar 21 Hari di China adalah bukti bahwa perjalanan terbaik bukanlah perjalanan menuju tempat yang jauh, melainkan perjalanan yang mengubah cara berpikir, memperluas wawasan, dan menguatkan tekad untuk terus berbagi ilmu kepada sesama.”





